Wednesday, 23 November 2016
Jalur pendakian gunung argopuro via baderan
- Dari bungur asih naik bus jurusan bondowoso turun di besuki
- Besuki menuju baderan naik angkot biru sampe ke basecamp
Untuk informasi mengenai Jalur Pendakian Argopuro via Bremi
Jalur pendakian gunung salak via cimelati
Jalur pendakian gunung sindoro via kledung
Monday, 22 August 2016
Jalur pendakian gunung papandayan
Jalur Pendakian Gunung Papandayan

Papandayan berada di kabupaten Garut. Gunung bertipe Stratovolcano ini saat sebelum meletus pada tahun 2002 mempunyai empat buah kompleks kawah besar tapi saetelah meletus kawah ini menjadi sebuah areal kawah yang cukup besar, dan kawah ini terlihat jelas dari kejauhan. Kompleks kawah gunung Papandayan ini bisa didatangi oleh masyarakat umum yang bukan pendaki gunung sekalipun, ini dimungkinkan karena adanya jalan aspal mulus yang membentang dari bawah hingga kedekat kawah gunung ini.
Transportasi
Bagi yang datang dari jakarta bisa naik bus jurusan garut kemudian turun di terminal guntur garut, dari situ kemudian naik angkot jurusan cisurupan turun di pertigaan cisurupan. Kemudian sambung dengan mobil pickup sampai basecamp papandayan
Bagi yang membawa kendaraan pribadi, dari Kota garut belokan kendaraan anda menuju arah Cijulang dan dipertigaan Cisurupan ambil jalan yang lurus jangan berbelok ke kiri, sebagai patokan di pertigaan Cisurupan ini ada Plang selamat datang di Gunung Papandayan.
Perijinan
Tidak susah hanya saat memasuki kawasan anda dikenakan biaya retribusi saja. Untuk kendaraan jika anda membawa kendaraan dan menginap anda bisa memberikan uang jasa menjaga kendaraan pada tukang pakirnya.
JALUR TREKKING KE PUNCAK
Parkiran – Pos 1 (kawah)
Sekitar 5 menit dari parkiran Camp David kita melewati jalanan berbatu yang cukup lebar. Menjelang akan memasuki kawah Papandayan yang biasa disebut Kawah Mas, melewati jalur yang sisi sebelah kiri berupa sungai dan sisi kanan berupa tebing tinggi.
Medan pendakian di kawasan kawah dengan kondisi jalan berbatu dan tandus serta bau belerang terasa menyengat. Dianjurkan untuk memakai masker ketika berada di kawah Papandayan. Pendaki bisa mengikuti tanda berupa pipa biru yang terpasang berdiri tegak sebagai panduan perjalanan menuju kawah.
Kurang lebih hampir satu jam perjalanan kita sudah berada di kawah Papandayan.
Kawah – Pos 2
Setelah melewati jalur kawah, kita akan melalui jalanan datar dan lebar hingga kita bertemu jalan buntu. saat keluar dari komplek kawah ini jalan setapak terus mendatar hingga sampai di sebuah warung and disini terdapat sebuah lapangan yang cukup untuk menampung banyak tenda. Dari sini tampak belokan jalanan turun kecil yang kalau malaum hari tidak begitu jelas. Ikuti jalan setapak tersebut hingga menyeberangi sungai kecil. Hujan pun turun cukup deras di area ini. Kurang dari lima menit kita akan menyeberangi sungai kecil. Berhati-hatilah ketika melewati sungai ini karena licin, terlebih dimusim hujan.Pendakian diteruskan melewati medan yang menanjak dan hutan cantigi. Kurang lebih setengah jam kami sudah berada di Pos 2.
Pos 2 – Pondok Saladah
Di Pos 2 kita diwajibkan lapor, sesuai data yang kita daftarkan di Camp David. Pos 2 merupakan persimpangan menuju Pangalengan dan menuju ke Pondok Saladah.
Ada dua jalur diawal dari pos 2 menuju pondok saladah, disarankan untuk mengambil jalur kanan yang tanah berupa undak-undakan dan tidak terlalu menanjak, karena biasanya jalur yang kiri digunakan warga sekitar yang menggunakan motor trail untuk ke pondok saladah jadi jalannya licin. jalur sisi kiri. Baru saja keluar dari Pos 2 jalan begitu sempit, naik terjal dan licin. Dari pos 2 menuju Pondok Saladah tidak begitu jauh, melewati hutan cantigi. kurang lebih 15 menit untuk sampai di Pondok Saladah.
Pondok Saladah merupakan Camp Area yang cukup luas. Area ini dipenuhi pepohonan yang saling berjejeran.Fasilitas disini pun cukup lumayan dari MCK hingga warung makan juga ada di area ini. Jangan kaget kalau suasana di Pondok Selada sangat ramai terutama di akhir pekan, akan banyak tenda-tenda berbagai model, warna dan merk bertebaran di tempat ini. Para pendaki biasa bermalam disini untuk melanjutkan perjalanan esok hari ke puncak.
Pondok Saladah – Hutan mati
Dari Pondok Selada melewati jalan setapak berbatu, lewatlah sisi bagian kiri, karena ketika musim hujan sisi kanan berupa sungai kecil akan tergenang air dan kontur tanahnya pun sangat lunak .Kemudian kita melewati jalanan begitu landai, menyeberangi sungai kecil serta medan berbatu. Kurang lebih 20 menit kita sudah sampai kawasan Hutan Mati.Medannya pun sangat terjal dan menanjak terus. Butuh extra hati-hati ketika memutuskan jalur sisi kanan. Sesekali kita harus berpegangan bebatuan besar untuk naik. Setelah melewati medan terjal, diteruskan dengan jalanan begitu landai.
Tidak jauh dari kawasan ini kita sudah tiba di kawasan Tegal Alun. Kurang lebih butuh waktu satu jam dari Pondok Saladah untuk tiba di Tegal Alun gunung Papandayan.
Tegal alun merupakan kawasan yang cukup luas dan dipenuhi dengan tanaman Edelwise. Kawasan ini merupakan kawasan terlarang untuk mendirikan tenda.
Tegal Alun merupakan surganya Papandayan, sehingga kawasan ini banyak dimanfaatkan para pendaki untuk berfoto ria dengan latar ladang edelwise.
Tegal Alun – Puncak
Dari tegal Alun jalan setapak menuju arah puncak berada di seberang sungai kecil, jalan setapak yang tiak begitu jelas ini kemudian membelok kearah kanan memasuki hutan, Hati-hati saat berada di kawasan ini mungkin karena jalur ini jarang di tempuh sehingga terkadang jalur jalan setapaknya tiba-tiba menghilang tapi jika jeli kita akan banyak menemukan string line atau ikatan tali raffia berwarna merah dan bitu yang di ikatkan pada ranting pohon sebagai penanda jalan. Dikawasan puncak Gunung Papandayan tidak banyak yang bisa dinikmati selain pemandangan kawah. Dipuncak ini tidak ada tiang trianggulasi nya atau tiang penunjuk ketinggian. Tidak ada tanda selain saat sampai di puncak gunung ini jalan setapak seterusnya akan menurun. Jika anda membawa altimeter atau GPS makan akan mudah menentukan puncaknya. Puncak gunung ini hanya pelataran kecil saja dan tersamar dengan jalan setapak yang membelahnya.
Puncak – Parkiran
Untuk perjalanan turun biasanya pendaki tidak melewati pos 2 tetapi menggunakan jalan alternatif dari pondok saladah melewati kawasan hutan mati lalu melewati jalanan menurun yang cukup terjal dan akan bertemu kembali dengan jalur asli di samping kawah. Jalur ini cukup menghemat waktu tapi mesti extra hati hati karena jalannya menurun agak terjal dan licin.
Tambahan
Jangan memulai pendakian pada sore hari, selain berkabut, asap dari kawah volumenya banyak, dan sangat membahayakan pernapasan.Kalau pendakian dilakukan tanpa membangun tenda, bawa saja minuman dan makanan secukupnya, selebihnya tinggalkan di Pos Informasi, sampai puncak langsung turun.Kalau mau bermalam, ada baiknya di Pondok Salada, jadi menuju puncak tidak perlu membawa banyak barang.Kendaraan dari Terminal Guntur menuju Desa Cisurupan ada setiap waktu, namun sangat direkomendasikan sampai Garut sebelum sore hari, kendaraan mudah harga murah.
Jalur pendakian gunung cikuray via kiara janggot
Pendakian Gunung Cikuray Via Kiara Janggot
Kabupaten Garut, adalah sebuah Kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Tarogong Kidul. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Sumedang di utara, Kabupaten Tasikmalaya di timur, Samudera Hindia di selatan, serta Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandung di barat.
Ibukota Kabupaten Garut berada pada ketinggian 717 mdpl dikelilingi oleh Gunung Karacak (1.838 mdpl), Gunung Cikuray (2.821 mdpl), Gunung Papandayan (2.622 mdpl), dan Gunung Guntur (2.249 mdpl).
Dengan pesona alam pegunungan inilah, Garut menjadi salah satu alternatif tujuan pendakian di wilayah Jawa Barat. Setidaknya ada tiga gunung di wilayah Garut yang sangat familiar dan bisa didaki secara estafet yaitu Cikuray, Papandayan dan Guntur. Atas dasar lokasi gunung yang saling berdekatan inilah, maka saya (Alas Perdu), Afan dan Agus memutuskan untuk mendaki dua gunung sekaligus dalam dua hari di wilayah Garut yaitu gunung Cikuray dan Papandayan. Kami bertiga tergabung dalam satu komunitas Pendaki Laka-Laka yangber-homebase di Kota Tegal
Gunung Cikuray adalah sebuah gunung yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat, Indonesia. Gunung Cikurai mempunyai ketinggian 2.821 meter di atas permukaan laut dan merupakan gunung tertinggi keempat di Jawa Barat setelah Gunung Gede. Gunung ini berada di perbatasan kecamatan Bayongbong, Cikajang, dan Dayeuh Manggung.
Transportasi
- Untuk menuju basecamp kiara janggot dari jakarta bisa naik bus jurusan garut kemudian turun di terminal guntur garut, setelah itu sambung dengan angkot 06 kuning arah cilawu turun di pangkalan ojek genteng, dari situ kemudian lanjut menggunakan ojek untuk sampai di basecamp kiara janggot
- Atau apabila ingin simple bisa kontak langsung basecamp kiara janggot untuk minta jemput sesampainya di terminal guntur
Basecamp – Pos 1
Medan yang di awal perjalanan berupa jalan perkampungan berbatu dan tanah merah, Dilanjutkan dengan ladang penduduk berupa tanaman cabai, daun bawang, kol dan juga padi.
Trek Jalur menuju Pos 1 sedikit menanjak. Terik panas sangat terasa karena matahari langsung ke badan kita tanpa terhalang pepohonan besar sama sekali. Sekitar 1,5 jam pendaki akan sampai di pos 1.
Mendekati Pos 2 kita baru melihat rerimbunan pohon besar sebagai tanda bahwa pos 2 sudah dekat. Berdasarkan pengalaman kurang lebih sejauh 2.100m dan membutuhkan waktu 1 jam hingga di Pos 2. Jalur menuju pos 2 merupakan jalur terpanjang selama pendakian via Janggot.
Pos 1 – Pos 2
Area di pos 1 tidak luas, cukup untuk 1-2 tenda saja. Perjalanan menuju pos 2 melewati hutan. Medan menuju pos 2 menanjak dan lumayan menguras tenaga.
Kurang lebih jarak yang ditempuh 660m dan waktu tempuh kita selama 45 menit.
Pos 2 – Pos 3
Pos 2 merupakan area sumber air. Di pos 2 ini kurang lebih cukup untuk 2-3 tenda. Disini air sangat jernih sekali dan rasanya pun sangat alami tidak kalah dengan air kemasan. Medan masih menanjak melewati pepohonan besar serta semak belukar. Jarak dari pos 2 ke pos 3 kurang lebih 335m dan membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai di pos 3.
Pos 3 – Pos 4
Medan dari pos 3 menuju pos 4 menanjak , jalur dilalui rapat dengan pepohonan. Kontur tanah masih berupa tanah yang gembur dan selingi akar akar di sepanjang jalur
Jarak yang ditempu menuju pos 4 kurang lebih 630m dan kami membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk sampai di pos 4.
Pos 4 – Pos 5
Menuju pos 5 medan semakin merapat dan tanjakan semakin terasa berat. Sekedar info karena kiara janggot merupakan jalur baru jadi kontur tanahnya masih gembur dan sangat licin apabila habis di guyur hujan berbeda dengan track jalur pemancar yang kontur tanahnya padat
Jarak tempuh dari pos 4 - pos 5 berkisar 740m sedangkan waktu tempuh kurang lebih 45 menit.
Pos 5 – Pos 6
Menuju pos 6 jalur makin membuat frustasi. Sesekali harus sering berpegangan akar atau dahan yang merambat di permukaan tanah.
Jalur makin rapat dan karena ini jalur baru juga di jalur ini agak jarang sekali ditemui sampah-sampah pendaki. Walaupun jalur ini tergolong baru tapi jangan khawatir karena di sepanjang jalur terdapat petujuk yg jelas berupa tanda-tanda pita dan plang yang dibuat oleh pengelola jalur kiara janggot.
Kurang lebih perjalanan sejauh 700m selama 60 menit.
Pos 6 – Pos Persimpangan
Dari pos 6 menuju area persimpangan kondisi jalan semakin menanjak dan juga licin. Sangat dianjurkan siapkan fisik prima dengan berlatih atau berolah raga ketika memutuskan mendaki melewati jalur Jenggot.
Waktu tempuh kurang lebih selama 30 menit untuk sampai di persimpangan. Persimpangan ini merupakan pertemuan antara jalur via kiara Janggot dan jalur pendakian via pemancar.
Pos Persimpangan – Pos 7
Setelah melewati persimpangan, pendaki akan menjumpai medan makin terjal.
Sekitar 30 menit perjalanan dari persimpangan untuk sampai di pos 7 jalur pemancar. Di pos 7 ini biasanya ramai pendaki yang mendirikan tenda dan bermalam disana karena wilayahnya yang lapang dan asik untuk tempat mendirikan tenda.
Pos 7 - Puncak
Menuju puncak jalur masih rapat dengan pepohonan, kurang lebih butuh waktu 15 menit menuju puncak
Dari pos 7, puncak masih belum terlihat jelas. Hal ini disebabkan gunung Cikuray merupakan gunung yang rapat dengan pepohonan dari bawah hingga kawasan puncak. Ini berbeda dengan gunung berapi pada umumnya. Umumnya gunung berapi ketika mendekati kawasan puncak atau batas vegetasi hanya tanaman perdu dengan tinggi sedang atau bahkan bebatuan dan pasir yang dijumpai. Berbeda sekali dengan gunung Cikuray, bahkan di Cikuray tidak dijumpai tanaman Edelwise.
Mendekati puncak Cikuray pendaki akan bertemu dengan selter yang cukup luas bisa di gunakan untuk berteduh didalamnya. Kawasan ini cocok sekali bagi yang tidak membawa tenda dan ingin bermalam.
Apabila cuaca cerah pendaki di perbolehkan untuk camp di areal puncak, tapi apabila cuaca sedang buruk dan curah hujan tinggi pendaki disarankan lebih baik baik untuk camp di pos 7
Karena berbahaya selain suhunya yang dingin di puncak terkadang juga terjadi badai apabila cuaca sedang buruk.
Pemandangan di puncak Cikuray sungguh sangat menyejukan mata, di samping krn sunrisenya yang indah puncak cikuray juga memiliki view yg sering di sebut lautan awan, krn awannya yang pekat menyerupai lautan disamudra.
Pemandangan dr puncak cikuray kita bisa melihat kota garut, gunung papandayan, guntur, bahkan ciremai di cirebon apabila cuaca sedang cerah.
Waktu tempuh pendakian :
- Basecamp - Pos 1 = 1,5 jam - 2 jam
- Pos 1 - Pos 2 = 45 menit
- Pos 2 - Pos 3 = 30 menit
- Pos 3 - Pos 4 = 45 menit
- Pos 4 - Pos 5 = 45 menit
- Pos 5 - Pos 6 = 1 jam
- Pos 6 - Persimpangan = 30 menit
- Persimpangan - Pos 7 = 30 menit
- Pos 7 - Puncak = 15 menit
NOTE :
- Waktu tempuh bervariasi tergantung cuaca dan kondisi fisik saat pendakian.
- Pakaian hangat sangat dianjurkan untuk dibawa karena suhu di gunung ini cukup dingin.
- Kondisi fisik sangat harus diperhatikan sebelum pendakian ke gunung cikuray
Saturday, 5 September 2015
Pendakian Gunung Latimojong - Sulawesi

Gunung Latimojong adalah gunung tertinggi di pulau Sulawesi. gunung ini buka merupakan gunung api akan tetapi berupa pegunung yang mempunyai beberapa puncak diatasnya. Gunung Latimojong yang terletak di Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan, mempunyai banyak puncak yaitu puncak Pantealoan (2500 mdpl), puncak Pokapinjang (2970 mdpl), puncak Rante Mario (3478 mdpl), puncak Sinaji (2430 mdpl), puncak Sikolong (2754 mdpl), puncak Rante Kambola (3083 mdpl), puncak Nenemori (3397 mdpl), puncak Bajaja (2700 mdpl), puncak Latimojong (2800 mdpl).
Untuk mencapai puncak Rante Mario bisa di akses melalu jalur Karangan( Dusun Karangan, Desa Rantelemo, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang).
Jalur pendakian
Makassar - Baraka
| Basecamp KPA Lembayung di Baraka |
Dari makassar biasanya pendaki mencharter mobil angkutan untuk akses ke kecamatan baraka, kabupaten Enrekang. Setibanya di baraka biasanya para pendaki menyempatkan diri berkunjung ke KPA (Kelompok Pecinta Alam) Lembayung untuk sekedar bersilaturahmi, dan disana kita juga bisa mencari informasi tentang pendakian ke Gunung Latimojong. Sebelum melakukan perjalanan ke Desa Karangan pendaki harus izin ke Polsek Baraka, mengisi data diri dan juga membayar adminidstrasi untuk pendakian.
Baraka - Rante Lemo - Desa Karangan
| Desa Rante Lemo |
| Jalan menuju desa Karangan |
| Basecamp di desa Karangan |
Perjalanan selanjut nya untuk mencapai desa Karangan biasanya pendaki mencharter Jeep/Hardtop yang disediakan untuk para pendaki, dan bagi yang tidak kebagian jeep masih ada truk yang siap mengantar pendaki ke desa Karangan. Biasanya jika cuaca kemarau jeep bisa mengantarkan pendaki langsung ke desa Karangan, tapi jika musim hujan jeep/hardtop hanya bisa mengantar sampai ke desa Rante Lemo saja, kemudian pendaki harus berjalan kaki selama 2 jam melewati desa Karuaja dan desa Bulukumba dengan track menanjak dan berlumpur untuk menuju ke desa Karangan.
Desa Karangan - Pos I (Buntu Kaciling)
Perjalanan di lanjutkan, setelah melewati desa Karangan pendaki akan disuguhkan pemandangan yang indah melewati kebuh cengkeh dan kopi milik warga. Setelah melewati perkebunan warga pendaki harus menyebrangi sungi Salu Karangan dengan jembatan terbuata dari batang pohon. Tak lama dari situ pendaki akan bertemu jalanan bercabang dua, yaitu kekiri mendatar adalah jalan menuju puncak Rante Mario dan kekanan menuju puncak Nene Mori yang merupakan puncak tertinggi kedua di Sulawesi. Setelah dari situ sampailah di area terbuka berukuran 4 meter persegi, yaitu Buntu Kaciling dengan ketinggian 1.800 mdpl. Di pos ini tidak terdapat sumber air, biasanya pendaki mengambil air di sungai Salu Karangan saat sebelum menyebranginya.
Pos 1 (Buntu Kaciling) - Pos 2 (Goa Sarung Pakpak)
Perjalanan dari Pos 1 ke Pos 2 cukup menguras tenaga karena jalurnya menyempit , licin, berlumut naik turun menyusuri sisi bukit. Setelah menyeberangi sungai besar pendaki akan sampai di Pos 2 Goa Sarung Pakpak. Pos 2 dikelilingi hutan rotan dengan sumber air berupa sungai yang airnya mengalir deras. Di Pos 2 terdapat pelataran di bawah tebing batu yang cukup untuk 2 tenda.
Pos 2 (Goa Sarung Pakpak) - Pos 3 (Lantang Nase)
Meninggalkan pos 2 pendakian dihadapkan track terjal menuju ke pos 3, tanjakan tanpa ampun dengan kemiringan 75-80 derajat. Untuk mendakinya tak jarang kita memerlukan bantuan tangan, walaupun jaraknya hanya sekitar 0,6 Km, namun memerlukan waktu ± 40 menit dari pos 2. Medan yang dilalui di awal merupakan bebatuan lepas yang bisa menjadi berbahaya bila kita berjalan tidak hati hati, beberapa waktu kita harus menggunakan tangan untuk membantu pergerakan untuk tetap naik, mungkin sudah termasuk dalam klasifikasi Scrambling. Pos 3 merupakan area datar berukuran 5 meter persegi dengan ketinggian 1940 mdpl. Tidak ada sumber air disini.
Pos 3 (Lantang Nase) - Pos 4 (Buntu Lebu)
Jalur menuju pos 4 tidak se-ekstrem sebelumnya, kemiringannya menurun menjadi kisaran 60 - 70 derajat. Terdapat beberapa bonus track mendatar, namun tetap dibutuhkan kewaspadaan tinggi agar tidak terjadi hal - hal yang tidak diinginkan. Pos Buntu Lebu berada pada ketinggian 2.140 Mdpl, merupakan area datar seluas 6 meter persegi yang tertutup rerimbunan pohon dan tidak terdapat sumber air disini.
Pos 4 (Buntu Lebu) - Pos 5 (Soloh Tama)
Perjalanan dari pos 4 akan berlanjut melalui hutan-hutan berlumut, perhatikan kaki anda, banyak terdapat akar-akar tanaman yang menonjol keluar dan kalau tidak hati-hati anda bisa tersandung, perjalanan menuju pos 5 lumayan menanjak namun tidak terlalu terjal, hanya saja agak panjang dan lebat hutannya, setelah kira-kira 1 jam 30 menit pendaki akan tiba di Pos 5.
Pos 5 merupakan tanah datar yang lumayan luas, namun bila sehabis hujan, air biasanya menggenangi daerah tengah-tengah pos 5, terdapat bekas pohon tumbang disini, di pos 5 ini dapat memuat 10 – 12 buah tenda dome, di pos 5 terdapat sumber air, namun anda harus berjalan ±200 meter untuk menuju sumber air tersebut, dan untuk menuju sumber air tersebut anda harus berjalan ke arah pos 6 dan kemudian akan menemukan sebuah pertigaan, ke kanan adalah menuju pos 6 dan ke kiri (turun) menuju ke sumber air, dari pos 5 ini juga anda dapat melihat sebuah air terjun di kejauhan diatas bukit yang terdapat di depan anda, tentunya bila cuaca cerah. Pos ini biasa digunakan pendaki untuk bermalam.
Pos 5 (Soloh Tama) - Pos 6 (Jendela Surga)
Dari pos 5 diperlukan waktu kira-kira 50 menit untuk tiba di pos 6, jalurnya akan benar-benar menanjak dan udara dingin sudah benar-benar menusuk, tidak ada yang spesial di jalur ini hanya sebidang tanah berukuran 3x6 meter persegi, tetapi dari pos 6 ini kita sudah bisa melihat jejeran pegunungan Latimojong yang mengintip malu dengan puncaknya yang bersusun rapi, sangat menyejukkan mata.
Pos 6 - Pos 7 (Kolong Buntu)

Selepas dari pos 6 perjalanan akan benar-benar mengasyikan. Karena perjalanan kita akan melewati jalur sempit, melewati hutan lumut yang sangat jarang di temui di gunung-gunung dipulau jawa.
Setelah berjalan kira-kira 90 menit dari pos 6, maka anda akan tiba di pos 7, sebuah pos yang paling indah di jalur ini, dari sini seakan-akan anda sudah berada di puncak, ketinggiannya adalah 3.100 mdpl, disini terdapat sebuah sungai di lembah sebelah kiri, dan untuk mencapai puncak rante Mario hanya diperlukan waktu kurang dari 30 menit lagi. Pos 7 ini juga merupakan tempat melihat pemandangan jajaran pegunungan latimojong, hutan – hutan lebat dan cakrawala di kejauhan semua terlihat disini, apalagi pada sore hari, awan – awan seputih kapas bergulung dan di sinari mentari sore yang berwarna jingga. Sungguh pemandangan yang super indah.
Pos 7 (Kolong Buntu) - Lapangan/Pertigaan Besar - Puncak Rante Mario
Setelah melewati pos 7 pendaki akan bertemu pertigaan, dimana yang ke kiri itu menuju ke arah Lapangan dan yang kekanan itu menuju punggungan gunung dimana terdapat antena ABRI yang sudah tak terpakai. Sesampainya di Lapangan pendaki akan bertemu tanah lapang dimana terdapat banyak jalur, ke kiri itu menuju puncak Rante Mario, ke kanan 30° menuju Puncak Nene Mori, dan yang ke kanan 90° menuju palopo. Di lapangan ini ketinggiannya 3.300 mdpl.
Setelah melewati pertigaan lapangan pendaki akan menemukan dua jalan bercabang yang nantinya akan bertemu sebelum puncak Rante Mario. Sesampainya di puncak terdapat sebuah tugu setinggi 1,5 m yang menandakan anda telah sampai di puncak Rante Mario 3.478 mdpl puncak tertinggi tanah Celebes. Kemudian pendaki akan disuguhi pemandangan yang sangat indah dari segala arah dimana tujuh puncak Latimojong berbaris tersusun rapi, di sebelah Utara terlihat puncak buntu Rante Kombala, di sebelah barat berdiri tegak puncak Pantealoan dan deretan bukit di Buntu Dea, sedangkan diarah selatan terlihat puncak buntu Nene Mori berselimut awan putih nan cantik.


Sekedar info bahwa suhu di puncak Rante mario sangat dingin, melebihi suhu di gunung Semeru.






