Wednesday, 23 November 2016

Jalur pendakian gunung argopuro via bremi

JALUR PENDAKIAN GUNUNG ARGOPURO





Sekilas tentang Gunung Argopuro

Gunung Argopuro terkenal sangat angker, gunung ini menyimpan misteri legenda Dewi Rengganis yang hilang bersama enam dayangnya. Konon, Sang Dewi bakal marah besar kalau merasa terusik ketenangannya. Pendaki yang suka usil dan mengusik, kalau tidak kesurupan bisa jadi akan kesasar tidak karuan. Konon terdapat sebuah taman yang sangat gaib yakni Taman Rengganis, tidak semua pendaki dapat melihat taman ini. Beberapa pendaki yang pernah melihat taman ini merasa memasuki sebuah taman yang sangat inidah penuh dengan tanaman bunga dan buah. Pendaki yang mengambil atau memetik tanaman tidak akan dapat keluar taman ini, ia hanya akan berputar-putar di tempat tersebut. Untuk itu hindari merusak tanaman ataupun memindahkan sesuatu.
Gunung Argopuro adalah salah satu gunung dari Kompleks pegunungan Iyang. Terdapat banyak puncak, beberapa puncaknya mempunyai struktur geologi tua dan sebagian yang lainnya lebih muda. Beberapa puncak gunung dalam kompleks ini diantaranya adalah Gunung Semeru ( 2.847m ), Gunung Jambangan ( 2.773m ), Gunung Cemoro Kandang, Gunung Krincing, Gunung Kukusan, Gunung Malang, Gunung Saing, Gunung Karang Sela, dan Gunung Argopuro. Puncak Argopuro berada pada ketinggian 3.088 m dari permukaan laut. Gunung yang sudah tidak aktif lagi kawahnya ini terletak di Kab. Probolinggo Jawa Timur. 


Ada dua jalur yang bisa ditempuh menuju puncak Gunung Argopuro yakni sebagai berikut: 
1. Jalur Bremi 
2. Jalur Baderan 


Peta Jalur Pendakian Gunung Argopuro




Pendakian Jalur Bremi


Transportasi

Untuk menuju Bremi dapat ditempuh dari kota Surabaya naik bus jurusan Probolinggo. Dari kota probolinggo naik bus Akas kecil jurusan ke Bremi. Bus ini berangkat dari pool Akas yang berada di terminal lama, samping hotel Bromo Indah. Bus ini berangkat dua kali, pagi jam 06.00 dan siang jam 12.00, sedangkan kembali dari Bremi menuju kota Probolinggo jam 08.00 dan jam 15.00. 
Sebelum melakukan pendakian wajib melaporkan diri di kantor polisi sektor Krucil untuk dicatat identitasnya. Di desa Bremi ini sebagian besar penduduknya adalah masyarakat Madura yang kadang tidak mengerti bahasa Indonesia sehingga agak sulit berkomunikasi. 


Pendakian

Perjalanan di mulai dari Kantor Polisi turun menuju pertigaan menuju arah perkebunan Ayer Dingin. Dengan melewati kebun penduduk yang kebanyakan ditanami jagung dan padi, selanjutnya akan memasuki kawasan perkebunan yang ditanami kopi dan sengon. Jalur semakin menanjak dan mulai memasuki kawasan hutan damar. Setelah berjalan sekitar 2 jam kita akan memasuki batas Hutan Suaka. 
Dari batas suaka alam, hutan semakin lebat dan jalur semakin terjal. Pendaki perlu waspada di kawasan ini banyak dihuni babi hutan. Perhatikan semak - semak yang bergerak dan suara khas babi yang sering muncul disekitar jalur pendakian. Bila kita sudah sampai di puncak bukit maka kita akan menemukan persimpangan jalur. Ambil lurus bila ingin terus menuju puncak, namun bila ingin ke Danau Taman Hidup harus berbelok ke kanan. 
Danau Taman Hidup adalah lokasi berkemah yang cukup luas. Di sekitar tempat ini kadang muncul babi hutan, kancil dan kijang, terdapat sebuah danau yang luas dan banyak ikannya sehingga dapat dipancing. Pendaki juga dapat mengambil air bersih dari danau ini. 
Tepian danau ini sangat berbahaya berupa rawa berlumpur, sehingga untuk mengambil air pendaki harus melewati jembatan dermaga kayu. Dari dermaga ini pendaki seringkali mandi berenang ke dalam danau. Namun perlu diperhatikan bila air sangat dingin berbahaya sekali untuk berenang. 
Ketika udara cerah bila pendaki berteriak maka sekonyong - konyong kabut akan muncul di atas danau, namun setelah diam kabut akan hilang lagi. Pendaki juga dapat mengelilingi danau untuk memancing ikan. Pada pagi hari kabut tebal menyelimuti danau sehingga berbahaya bila ingin mengambil air, karena dapat terjebak di rawa tepian danau. Untuk itu persiapkan air jauh sebelumnya ketika cuaca cerah. 
Meninggalkan Danau Taman Hidup pendaki harus berjalan ke arah semula menuju persimpangan dan belok ke kanan ke arah puncak. Jalur agak landai namun suasana hutansemakin lebat. Setelah berjalan sekitar 30 menit kita akan berjumpa dengan sungai kecil yang kering. Jalur selanjutnya semakin menanjak, di pagi hari di sepanjang jalur dapat kita temukanjejak Babi hutan, bahkan jejak kaki Macan yang masih baru. 
Selanjutnya kita akan memasuki kawasan hutan yang semakin gelap dan lembab, begitu dekatnya jarak antara pohon sehingga sulit bagi sinar matahari untuk menembusnya. Kawasan ini di sebutHutan Lumut karena semua pohon di areal ini ditutupi oleh lumut. Kesan angker dan menyeramkan sangat terasa ketika melewati daerah ini. Jejak Kancil, Menjangan, Babi hutan dan Macan dapat ditemukan di sepanjang jalur ini. 
Sekitar 1 jam melintasi hutan lumut kita memasuki hutan yang jarak pohonnya tidak terlalu rapat, sehingga kelihatan agak terang. Tumbuhan herbal dan rumput pun tumbuh subur. Jalur ini menyusuri lereng bukit dengan sisi kiri berupa jurang. Rumput yang tumbuh kadang begitu tingginya, sehingga menutupi jalur. Sesekali terdengar kicauan aneka jenis burung 
30 menit selanjutnya kita akan tiba di lereng yang banyak batu - batu besar. Disini banyak terdapat pohon tumbang sisa kebakaran hutan. Kita harus melintasi 3 buah sungai kering dengan cara turun jurang dan naik lagi ke atas bukit. Bukit - bukit di depan kita banyak di tumbuhi rumput dengan pohon yang agak jarang. Sesekali terlihat Kancil atau Menjangan berlari - larian, sementara belasan lutung - lutung bergantungan di atas pohon. 
Sekitar 1 jam berikutnya kita sudah berada di lereng bukit yang banyak ditumbuhi rumput - rumput tinggi. Rumput - rumput ini seringkali menutupi jalur sehingga sangat menggangu. Di antara rerumputan Edelweis mulai tumbuh, pohon - pohon besar sisa kebakaran masih bertahan hidup dengan menumbuhkan daun - daun hijau yang baru 
Dengan menempuh waktu sekitar 30 menit melintasi rerumputan yang mengelilingi bukit kita akan tiba di sebuah sungai kecil yang airnya mengalir lancar. Pendaki dapat mendirikan tenda di daerah Kali putih ini. 
Berikutnya kita akan melintasi hutan cemara yang banyak ditumbuhi rumput - rumput yang tinggi, 1 jam selanjutnya akan tiba di padang rumput gimbal, rumput di sini berbentuk keriting dan tumbuh secara bergerombol. Perjalanan memutar mengelilingi puncak gunung dengan menyusuri padang rumput gimbal. Selanjutnya akan sampai di Sicentor. 
Sicentor adalah tempat pertemuan jalur Baderan dan Bremi yang bersatu menuju puncak. Di tempat ini kita dapat mendirikan tenda untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak. Di Sicentor terdapat sebuah bangunan dari kayu yang dapat digunakan untuk berlindung dari hujan dan angin. 
Dari Sicentor perjalanan mendaki bukit melintasi padang rumput dan padang Edelweis sekitar 1 jam perjalanan akan berjumpa dengan sungai yang kering. Setelah menyeberangi dua buah sungai kering kembali melintasi padang rumput dan padang Edelweis yang sangat indah. 1 jam berikutnya akan tiba di Rawa Embik. 
Untuk menuju puncak belok ke kiri, namun bila ingin beristirahat dapat mendirikan tenda diRawa Embik. Di tempat ini terdapat sungai kecil yang selalu berair di musim kemarau. Rawa Embik berupa lapangan terbuka sehingga bila angin bertiup kencang tenda dapat bergoyang - goyang dengan keras. 
Dari Rawa Embik kembali berbelok kearah kiri melintasi padang rumput, untuk menuju ke puncak yang membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Dari padang rumput berbelok ke kanan mendaki lereng terjal yang berdebu dan banyak pohon tumbang sisa kebakaran. Bila angin bertiup kencang pohon - pohon sisa kebakaran ini rawan tumbang sehingga harus berhati - hati.Tanah gembur berdebu juga rawan longsor harus berhati - hati melintasinya. 
Selanjutnya sedikit turun kita akan melintasi sebuah sungai yang kering dan berbatu. Kembali mendaki bukit yang terjal, kita akan berjumpa dengan padang rumput dan padang Edelweisyang sangat indah. Di depan kita nampak puncak Rengganis yang berwarna keputihan, terdiri dari batu kapur dan belerang. 
Puncak gunung Argopuro adalah bekas Kawah yang sudah mati, bau belerang masih sangat terasa. Puncak ini berbentuk punden berundak semacam tempat pemujaan, punden paling bawah selebar lapangan bola di sini banyak terdapat batu - batu berserakan. 
Keatas lagi selebar sekitar 10 x 10 meter, ke atas lebih kecil lagi. Selanjutnya kita akan melintasi bekas kawah yang banyak terdapat batu - batu kapur berwarna putih dan bau belerang. Pada puncak tertinggi terdapat susunan batu yang diyakini sebagai petilasan Dewi Rengganis. 


Informasi mengenai Jalur Pendakian Gunung Argopuro via Baderan.

Jalur pendakian gunung argopuro via baderan

JALUR PENDAKIAN GUNUNG ARGOPURO






Sekilas tentang Gunung Argopuro

Gunung Argopuro terkenal sangat angker, gunung ini menyimpan misteri legenda Dewi Rengganis yang hilang bersama enam dayangnya. Konon, Sang Dewi bakal marah besar kalau merasa terusik ketenangannya. Pendaki yang suka usil dan mengusik, kalau tidak kesurupan bisa jadi akan kesasar tidak karuan. Konon terdapat sebuah taman yang sangat gaib yakni Taman Rengganis, tidak semua pendaki dapat melihat taman ini. Beberapa pendaki yang pernah melihat taman ini merasa memasuki sebuah taman yang sangat inidah penuh dengan tanaman bunga dan buah. Pendaki yang mengambil atau memetik tanaman tidak akan dapat keluar taman ini, ia hanya akan berputar-putar di tempat tersebut. Untuk itu hindari merusak tanaman ataupun memindahkan sesuatu.
Gunung Argopuro adalah salah satu gunung dari Kompleks pegunungan Iyang. Terdapat banyak puncak, beberapa puncaknya mempunyai struktur geologi tua dan sebagian yang lainnya lebih muda. Beberapa puncak gunung dalam kompleks ini diantaranya adalah Gunung Semeru ( 2.847m ), Gunung Jambangan ( 2.773m ), Gunung Cemoro Kandang, Gunung Krincing, Gunung Kukusan, Gunung Malang, Gunung Saing, Gunung Karang Sela, dan Gunung Argopuro. Puncak Argopuro berada pada ketinggian 3.088 m dari permukaan laut. Gunung yang sudah tidak aktif lagi kawahnya ini terletak di Kab. Probolinggo Jawa Timur. 


Ada dua jalur yang bisa ditempuh menuju puncak Gunung Argopuro yakni sebagai berikut: 
1. Jalur Bremi 
2. Jalur Baderan 


JALUR BADERAN 

Pendakian menuju puncak argopuro ini tidak seramai gunung-gunung lain di jawa timur, Pendaki wajib melaporkan diri Kantor Polisi Sektor Sumber Malang yang berada sekitar 1 km dari Baderan, atau pada kantor Perhutani yang berada tepat di pertigaan jalan Desa Baderan. Pendaki yang akan mendaki ke gunung ini disarankan untuk mengerti betul teknik dan medan yang akan dilalui karena tanggung jawab keselamatan apabila terjadi musibah di gunung ini adalah menjadi milik pendaki sendiri sehingga persiapan dan kekompakkan sangat diperlukan. 

Transportasi

Dari jakarta naik kereta jurusan surabaya turun di stasiun pasar turi, kemudian sambung angkot menuju terminal bungur asih surabaya
- Dari bungur asih naik bus jurusan bondowoso turun di besuki 
- Besuki menuju baderan naik angkot biru sampe ke basecamp

Atau bisa juga dari surabaya naik mobil charteran untuk langsung menuju ke basecamp baderan


Pendakian

Jalur yang dilalui selama perjalanan memang sudah cukup jelas tetapi harus melingkar dan naik turun beberapa bukit, waktu pendakian menuju puncak akan lebih lama. Oleh karena itu pendaki disarankan untuk memperhitungkan persediaan logistik minimal untuk keperluan 3 hari. Persediaan air bersih di gunung Argopuro ini sangat berlimpah, meskipun di musim kemarau. Mata air dapat ditemukan mulai dari kaki gunung hingga hampir puncak gunung. 
Pada musim hujan banyak sekali sungai-sungai kecil yang biasa kering di musim kemarau akan terisi air. Pacet atau Lintah pada musim kemarau tidak ada namun bila di musim hujan akan muncul banyak sekali. Pada waktu dan cuaca yang normal pendakian menuju puncak akan membutuhkan waktu sekitar 10 - 12 jam. 

Perjalanan akan dimulai dari desa Baderan, kendaraan angkutan desa berhenti di pertigaan ini, terdapat kantor Perhutani. Dari pertigaan ini kita berjalan menuruni jalan aspal sekitar 200 meter, kemudian berbelok ke kiri menapaki jalan yang diperkeras dengan batu. Sekitar 1 km kita akan berjumpa dengan sumber air desa, kita masih terus berjalan sekitar 1,5 km lagi menapaki jalan berbatu yang menyusuri lereng bukit yang banyak ditumbuhi dengan tanaman jagung dan tembakau. 
Selanjutnya perjalanan mulai memasuki kawasan hutan yang banyak dihuni babi hutan, lutung dan aneka burung. 

Setelah berjalan sekitar 3 jam kita sampai di Km 4,2 dimana terdapat mata air yang sangat jernih. Di tempat ini juga terdapat tempat terbuka yang dapat digunakan untuk mendirikan tenda. Tempat ini berada di punggung bukit sehingga bila ada angin kencang akan terganggu. 
Masih menyusuri hutan yang semakin lebat dan gelap, jalur menyurusi punggung dan lereng jurang yang sangat dalam. 

Di km 7 kita akan berjumpa dengan sungai yang kadang kering, bila hujan sungai ini akan terisi oleh air, mendaki bukit yang di tumbuhi pohon cemara

Selanjutnya di km 8 menapaki padang rumput. Jalur selanjutnya di dominasi oleh padang rumput yang pemandangannya sangat indah. 

Setelah berjalan sekitar 5 jam kita akan sampai di km 15 di Cikasur, di sini terdapat sebuah lapangan datar yang sangat luas. Dahulunya pada jaman Belanda akan dibangun sebuah lapangan terbang. Masih terdapat sisa-sisa pondasi landasan, dan sisa-sisa bangunan yang sering dipakai untuk mendirikan tenda. 
Konon pendaki yang menginap di tempat ini sering mendengarkan jeritan-jeritan kesakitan para pekerja paksa yang disiksa dan dikuburkan secara masal dalam parit-parit yang mereka gali sendiri. Konon juga ada kebun bunga Tulip yang ditanam oleh tentara Belanda dan roh tentara tersebut masih menjaganya, pendaki yang pernah menemukan kebun ini dan memetik bunganya akan di kejar-kejar oleh hantu tentara Belanda tersebut. 
Terdapat sungai yang sangat jernih, yang airnya berlimpah meskipun di musim kemarau. Membuat ingin minum sepuas-puasnya dan ingin mandi menceburkan diri. Di Cikasur ini juga terdapat sebuah bangunan dari kayu yang dapat digunakan untuk berlindung dari angin dan hujan. Namun sayang kecerobohan pendaki dengan membuat api di dalam bangunan ini telah merusakkan lantai bangunan yang terbuat dari kayu. 
Dari Cikasur kembali menapaki padang rumput gimbal, yakni rumput yang daun - daunnya keriting. Perjalanan di siang hari akan terasa sangat panas dan melelahkan, namun bila kita menikmati pemandangan padang rumput yang indah ini kita akan lupa semua penderitaan selama perjalanan. Di kawasan padang rumput ini rawan kebakaran sehingga harus hati-hati bila membuat api unggun. 
Setelah berjalan sekitar 2 jam melewati beberapa padang rumput kita akan mendaki dua bukit yang banyak terdapat pohon-pohon sisa kebakaran hutan. Di tempat ini edelweis banyak tumbuh dan bunganya mulai bermekaran. Tempat ini pun rawan kebakaran, dan angin seringkali bertiup sangat kencang. Pohon-pohon sisa kebakaran sangat rawan tumbang, sehingga perlu hati-hati melewati jalur ini bila angin bertiup kencang. 

Setibanya dipuncak bukit kita akan menyusuri lereng gunung yang berada di sisi jurang yang sangat dalam. Di sepanjang jalur ini hutan sangat lebat dan masih banyak terdapat binatang-binatang, seperti lutung dan aneka burung. Jalur ini sangat berbahaya karena rawan longsor dan pohon-pohon mudah tumbang, sementera di sisi kita jurang yang sangat dalam.

Selanjutnya kita akan tiba di ujung bukit, menuruni bukit yang sangat terjal dan menyeberangi sungai yang airnya berlimpah meskipun di musim kemarau. Kita telah sampai di Sicentor yakni pertigaan tempat pertemuan jalur baderan dan bremi yang bersatu menuju puncak. Di tempat ini kita dapat mendirikan tenda untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak. Di Sicentor terdapat sebuah bangunan dari kayu yang dapat digunakan untuk berlindung dari hujan dan angin. 

Dari Sicentor perjalanan mendaki bukit melintasi padang rumput dan padang edelweiss, sekitar 1 jam perjalanan akan berjumpa dengan sungai yang kering. Setelah menyeberangi dua buah sungai kering kembali melintasi padang rumput dan padang edelweis yang sangat indah. 1 jam berikutnya akan tiba di Rawa Embik. Untuk menuju puncak belok ke kiri, namun bila ingin beristirahat dapat mendirikan tenda di Rawa Embik. Di tempat ini terdapat sungai kecil yang selalu berair di musim kemarau. Rawa Embik berupa lapangan terbuka sehingga bila angin bertiup kencang tenda dapat bergoyang-goyang dengan keras. 

Dari Rawa Embik kembali berbelok kearah kiri melintasi padang rumput, untuk menuju ke puncak yang membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Dari padang rumput berbelok ke kanan mendaki lereng terjal yang berdebu dan banyak pohon tumbang sisa kebakaran. Bila angin bertiup kencang pohon-pohon sisa kebakaran ini rawan tumbang sehingga harus berhati-hati. Tanah gembur berdebu juga rawan longsor harus berhati-hati melintasinya. 
Selanjutnya sedikit turun kita akan melintasi sebuah sungai yang kering dan berbatu. Kembali mendaki bukit yang terjal, kita akan berjumpa dengan padang rumput dan padang edelweis yang sangat indah. Di depan kita nampak puncak Rengganis yang berwarna keputihan, terdiri dari batu kapur dan belerang. 

Puncak gunung Argopuro adalah bekas Kawah yang sudah mati, bau belerang masih sangat terasa. Puncak ini berbentuk punden berundak semacam tempat pemujaan, punden paling bawah selebar lapangan bola di sini banyak terdapat batu-batu berserakan. Ke atas lagi selebar sekitar 10 x 10 meter, ke atas lebih kecil lagi. Selanjutnya kita akan melintasi bekas kawah yang banyak terdapat batu-batu kapur berwarna putih dan bau belerang. Pada puncak tertinggi terdapat susunan batu yang diyakini sebagai petilasan Dewi Rengganis.


Untuk informasi mengenai Jalur Pendakian Argopuro via Bremi

Jalur pendakian gunung salak via cimelati

JALUR PENDAKIAN GUNUNG SALAK





Jalur Kutajaya/Cimelati


Jalur Kutajaya atau Cimelati adalah jalur pendakian ke puncak Gunung Salak yang paling pendek dan paling cepat, namun di sepanjang jalur pendaki akan sulit menemukan sumber air, sehingga air bersih harus dipersiapkan sejak dari bawah.

Transportasi

Untuk menuju Kutajaya dari Bogor pendaki naik mobil ke jurusan Sukabumi turun di Cicurug atau Cimelati. Cicurug adalah kota kecamatan yang masuk ke wilayah kabupaten Sukabumi, segala perlengkapan pendakian harus dipersiapkan di sini. Dari pasar Cicurug yang juga merangkap terminal kita dapat mencarter mobil ke Kutajaya atau naik ojeg. Kendaraan umum hanya ada di pagi hari, itupun dalam jumlah sangat terbatas.

Pendakian

Perjalanan dimulai dari desa Kutajaya dengan menyusuri ladang dan kebun pertanian penduduk, karena banyaknya percabangan maka perjalanan sebaiknya dilakukan siang hari, usahakan untuk selalu mengikuti punggung gunung.
Bila agak sulit menemukan jalur bisa mengikuti arah ke air terjun. Terdapat tanda-tanda yang jelas pada setiap pos, namun tanda-tanda penunjuk arah menuju puncak sangat jarang. Disepanjang jalur ini tidak ada tempat yang cukup luas dan datar untuk membuka tenda. Di beberapa pos terdapat tempat yang cukup untuk mendirikan 1-2 buah tenda ukuran kecil. Jalur ini jarang dilewati pendaki sehingga kadangkala tertutup rumput dan dedaunan.
Setelah melintasi ladang pertanian penduduk, pendaki melintasi hutan yang cukup lebat namun tidak terlalu lembab. Selanjutnya akan dijumpai pertigaan dari Kutajaya, air terjun dan menuju puncak. Berjalan menuju ke arah puncak sekitar beberapa ratus meter akan dijumpai Pos 3. Jalur ini terus menanjak melintasi hutan-hutan yang cukup lebat. Di Pos 4 pendaki akan menemukan percabangan lagi. Di sini terdapat pipa saluran air, jangan mengikuti pipa saluran air, baik yang ke atas (kiri) maupun ke bawah (kanan).
Setelah melewati Pos 4 jalur kelihatan cukup jelas dan tidak banyak percabangan lagi. Dengan berjalan menempuh sekitar 1 jam akan sampai di Pos 5. Jalur semakin menanjak melintasi hutan lebat dan kadangkala pendaki harus melintasi akar-akar pohon. Sepanjang jalur Kutajaya ini pemandangan monoton hanya berupa hutan-hutan, namun pendaki kadangkala akan melihat satwa-satwa seperti aneka jenis burung, juga suara-suara monyet, bahkan seringkali rombongan monyet melintasi jalur ini.
Untuk menuju Pos 6 diperlukan waktu sekitar 1 jam perjalanan. Di Pos 6 terdapat tanah datar yang cukup untuk mendirikan 1 buah tenda. Masih diperlukan lagi waktu sekitar 1 jam perjalanan untuk menuju puncak Gunung Salak I. Penjalanan melewati jalur ini akan sampai tepat di samping makam Mbah Gunung Salak atau puncak Gunung Salak 1 dengan ketinggian 2.211 mdpl.

Jalur pendakian gunung sindoro via kledung

Jalur Pendakian Gunung Sindoro






Gunung Sindoro - 3.136 m.dpl, setidaknya ada tiga nama yang dikenal baik oleh masyarakat, Sindoro, Sundoro atau Sendoro. Adalah termasuk dalam jajaran gunung berapi yang mempunyai bentuk kerucut dengan tipe Strato. Dari kejauhan nampak seperti dua saudara kembar antara Sundoro dan Sumbing, berdiri kokoh di batas Kabupaten Temanggung sebelah barat dan sebelah timur kota Wonosobo. Diantara keduanya, dipisahkan oleh pelana Kledung (1.405 m.dpl) yang melintasi jalan raya, menghubungkan Wonosobo dengan kota Magelang.
Gunung Sundoro mempunyai Koordinat/ Geografi pada 7 18?LS dan 109 59.5? BT dan memiliki areal Kawasan Hutan cukup luas yang di kelola oleh PERHUTANI Wonosobo (772 m.dpl) dan Temanggung. Berada di puncaknya, kita bisa melihat pemandangan disekitarnya, bagian lereng gunung ditanami hamparan kebun teh yang mengelilingi menjadikan lereng sindoro terlihat hijau sepanjang tahun.





Di bagian timur dari puncak datar seluas 400 x 300 m terdapat kawah kembar besar berukuran 210 x 150 m, sedangkan dataran Segero Wedi, Banjaran, di bagian barat dan utara, adalah sisa dari kawah utama dan sekunder. Kerucut dan kawah parasit ditemukan di lereng barat daya dan timur laut dan di kaki tenggara. Beberapa ratus bukit di kaki timur laut menurut Taverne dan van Bemmelen merupakan sisa erosi dari suatu longsoran tanah sebelum tanah sebelum sejarah atau dari lahar.


Rute Pendakian

Gunung api ini mudah dicapai dari segala jurusan, dari sebelah timur dari Magelang, dari sebelah barat dari Banjarnegara, dari arah utara dari Candiroto atau Melayu, sedangkan dari arah selatan dari Purworejo. Untuk mendaki gunung Sundoro terdapat banyak jalur yang biasanya dipergunakan, yaitu lewat Desa Kledung dan lewat Desa Sigedang (Tambi), Bansari (Temanggung)


Jalur Kledung

Jalur kledung merupakan jalur umum yang biasa di lalui oleh pendaki,l. Untuk sarana penginapan di Kledung masih belum tersedia, penginapan hanya ada di Wonosobo atau Magelang, tetapi kita bisa menginap di rumah Kepala Desa atau di rumah masyarakat setempat.
Di Desa Kledung kita bisa menyaksikan pemandangan yang menarik baik kearah Gunung Sundoro maupun kearah Gunung Sumbing.


Transportasi

Untuk mencapai Desa Kledung, dari arah Magelang naik bus ke jurusan Wonosobo atau sebaliknya, turun di Desa Kledung disebelah Restoran Dieng Pass. Perjalanan dari arah Wonosobo menuju basecamp kledung hanya 3 Km


Pendakian

Dari basecamp, sekitar 0,5 jam perjalanan kita akan melewati batas ladang penduduk dengan hutan dan sampai di Watu Gede. Sekitar 0,5 jam perjalanan lagi kita akan sampai di Situk, disini ada pos pendaki dan kita dapat beristirahat disini. Dari Situk diteruskan lagi, kita akan menemui jalan bercabang, lurus dan ke arah kanan.
Sebaiknya kita ambil yang lurus karena jalan ini lebih cepat tetapi lebih menanjak, sedangkan jalan yang kanan lebih landai dan melewati lereng bukit, kedua jalan ini akan bertemu di Pestan dan dapat ditempuh dalam 2 jam dari Situk.
Berjalan sekitar 2-3 jam lagi kita sampai di Batu Tatah, daerahnya agak berbatu. Untuk menuju puncak diperlukan waktu 2 jam lagi, mendekati puncak kita mengambil jalan memutar dari arah kiri menuju ke arah kanan menuju puncak. Dari desa Kledung ke puncak Sundoro ini membutuhkan waktu 7 jam dan turunnya dibutuhkan waktu 4 jam.
Puncak Gunung Sundoro merupakan dataran seluas (400 x 300) meter, yang disebelah timurnya terdapat dua kawah kembar seluas (210 x 150) meter. Sedangkan di sebelah barat dan utara terdapat dataran Segoro Wedi dan Banjaran serta dua dataran yang belum bernama, yang merupakan sisa kawah utama dan sekunder.
Menurut tradisi masyarakat di sini setiap tanggal 1 Suro, Tahun Baru pada penanggalan Jawa-Islam, banyak penduduk yang mendaki Gunung Sundoro ini, untuk mengadakan selamatan di puncak.


Untuk informasi mengenai Jalur Sigedang, Jalur Bansari

Monday, 22 August 2016

Jalur pendakian gunung papandayan

Jalur Pendakian Gunung Papandayan


Papandayan berada di kabupaten Garut. Gunung bertipe Stratovolcano ini saat sebelum meletus pada tahun 2002 mempunyai empat buah kompleks kawah besar tapi saetelah meletus kawah ini menjadi sebuah areal kawah yang cukup besar, dan kawah ini terlihat jelas dari kejauhan. Kompleks kawah gunung Papandayan ini bisa didatangi oleh masyarakat umum yang bukan pendaki gunung sekalipun, ini dimungkinkan karena adanya jalan aspal mulus yang membentang dari bawah hingga kedekat kawah gunung ini.

Transportasi

Bagi yang datang dari jakarta bisa naik bus jurusan garut kemudian turun di terminal guntur garut, dari situ kemudian naik angkot jurusan cisurupan turun di pertigaan cisurupan. Kemudian sambung dengan mobil pickup sampai basecamp papandayan

Bagi yang membawa kendaraan pribadi, dari Kota garut belokan kendaraan anda menuju arah Cijulang dan dipertigaan Cisurupan ambil jalan yang lurus jangan berbelok ke kiri, sebagai patokan di pertigaan Cisurupan ini ada Plang selamat datang di Gunung Papandayan. 


Perijinan 

Tidak susah hanya saat memasuki kawasan anda dikenakan biaya retribusi saja. Untuk kendaraan jika anda membawa kendaraan dan menginap anda bisa memberikan uang jasa menjaga kendaraan pada tukang pakirnya. 


JALUR TREKKING KE PUNCAK 

Parkiran – Pos 1 (kawah)

Sekitar 5 menit dari parkiran Camp David kita melewati jalanan berbatu yang cukup lebar. Menjelang akan memasuki kawah Papandayan yang biasa disebut Kawah Mas, melewati jalur yang sisi sebelah kiri berupa sungai dan sisi kanan berupa tebing tinggi.


Medan pendakian di kawasan kawah dengan kondisi jalan berbatu dan tandus serta bau belerang terasa menyengat. Dianjurkan untuk memakai masker ketika berada di kawah Papandayan. Pendaki bisa mengikuti tanda berupa pipa biru yang terpasang berdiri tegak sebagai panduan perjalanan menuju kawah.


Kurang lebih hampir satu jam perjalanan kita sudah berada di kawah Papandayan. 

Kawah – Pos 2


Setelah melewati jalur kawah, kita akan melalui jalanan datar dan lebar hingga kita bertemu jalan buntu. saat keluar dari komplek kawah ini jalan setapak terus mendatar hingga sampai di sebuah warung and disini terdapat sebuah lapangan yang cukup untuk menampung banyak tenda. Dari sini tampak belokan jalanan turun kecil yang kalau malaum hari tidak begitu jelas. Ikuti jalan setapak tersebut hingga menyeberangi sungai kecil. Hujan pun turun cukup deras di area ini. Kurang dari lima menit kita akan menyeberangi sungai kecil. Berhati-hatilah ketika melewati sungai ini karena licin, terlebih dimusim hujan.Pendakian diteruskan melewati medan yang menanjak dan hutan cantigi. Kurang lebih setengah jam kami sudah berada di Pos 2.



Pos 2 – Pondok Saladah


Di Pos 2 kita diwajibkan lapor, sesuai data yang kita daftarkan di Camp David. Pos 2 merupakan persimpangan menuju Pangalengan dan menuju ke Pondok Saladah.

Ada dua jalur diawal dari pos 2 menuju pondok saladah, disarankan untuk mengambil jalur kanan yang tanah berupa undak-undakan dan tidak terlalu menanjak, karena biasanya jalur yang kiri digunakan warga sekitar yang menggunakan motor trail untuk ke pondok saladah jadi jalannya licin. jalur sisi kiri. Baru saja keluar dari Pos 2 jalan begitu sempit, naik terjal dan licin. Dari pos 2 menuju Pondok Saladah tidak begitu jauh, melewati hutan cantigi. kurang lebih 15 menit untuk sampai di Pondok Saladah.

Pondok Saladah merupakan Camp Area yang cukup luas. Area ini dipenuhi pepohonan yang saling berjejeran.

Fasilitas disini pun cukup lumayan dari MCK hingga warung makan juga ada di area ini. Jangan kaget kalau suasana di Pondok Selada sangat ramai terutama di akhir pekan, akan banyak tenda-tenda berbagai model, warna dan merk bertebaran di tempat ini. Para pendaki biasa bermalam disini untuk melanjutkan perjalanan esok hari ke puncak.


Pondok Saladah – Hutan mati

Dari Pondok Selada melewati jalan setapak berbatu, lewatlah sisi bagian kiri, karena ketika musim hujan sisi kanan berupa sungai kecil akan tergenang air dan kontur tanahnya pun sangat lunak .Kemudian kita melewati  jalanan begitu landai, menyeberangi sungai kecil serta medan berbatu. Kurang lebih 20 menit kita sudah sampai kawasan Hutan Mati.


Hutan mati - Tegal alun

Ditengah perjalanan akan bertemu persimpangan, ke kiri landai, sedangkan ke kanan begitu terjal dan langsung menuju ke puncak papandayan.


Medannya pun sangat terjal dan menanjak terus. Butuh extra hati-hati ketika memutuskan jalur sisi kanan. Sesekali kita harus berpegangan bebatuan besar untuk naik. Setelah melewati medan terjal, diteruskan dengan jalanan begitu landai.


Tidak jauh dari kawasan ini kita sudah tiba di kawasan Tegal Alun. Kurang lebih butuh waktu satu jam dari Pondok Saladah untuk tiba di Tegal Alun gunung Papandayan.


Tegal alun merupakan kawasan yang cukup luas dan dipenuhi dengan tanaman Edelwise. Kawasan ini merupakan kawasan terlarang untuk mendirikan tenda.




Tegal Alun merupakan surganya Papandayan, sehingga  kawasan ini banyak dimanfaatkan para pendaki untuk berfoto ria dengan latar ladang edelwise.


Tegal Alun – Puncak 

Dari tegal Alun jalan setapak menuju arah puncak berada di seberang sungai kecil, jalan setapak yang tiak begitu jelas ini kemudian membelok kearah kanan memasuki hutan, Hati-hati saat berada di kawasan ini mungkin karena jalur ini jarang di tempuh sehingga terkadang jalur jalan setapaknya tiba-tiba menghilang tapi jika jeli kita akan banyak menemukan string line atau ikatan tali raffia berwarna merah dan bitu yang di ikatkan pada ranting pohon sebagai penanda jalan. Dikawasan puncak Gunung Papandayan tidak banyak yang bisa dinikmati selain pemandangan kawah. Dipuncak ini tidak ada tiang trianggulasi nya atau tiang penunjuk ketinggian. Tidak ada tanda selain saat sampai di puncak gunung ini jalan setapak seterusnya akan menurun. Jika anda membawa altimeter atau GPS makan akan mudah menentukan puncaknya. Puncak gunung ini hanya pelataran kecil saja dan tersamar dengan jalan setapak yang membelahnya. 


Puncak – Parkiran 

Untuk perjalanan turun biasanya pendaki tidak melewati pos 2 tetapi menggunakan jalan alternatif dari pondok saladah melewati kawasan hutan mati lalu melewati jalanan menurun yang cukup terjal dan akan bertemu kembali dengan jalur asli di samping kawah. Jalur ini cukup menghemat waktu tapi mesti extra hati hati karena jalannya menurun agak terjal dan licin.


Tambahan

Jangan memulai pendakian pada sore hari, selain berkabut, asap dari kawah volumenya banyak, dan sangat membahayakan pernapasan.Kalau pendakian dilakukan tanpa membangun tenda, bawa saja minuman dan makanan secukupnya, selebihnya tinggalkan di Pos Informasi, sampai puncak langsung turun.Kalau mau bermalam, ada baiknya di Pondok Salada, jadi menuju puncak tidak perlu membawa banyak barang.Kendaraan dari Terminal Guntur menuju Desa Cisurupan ada setiap waktu, namun sangat direkomendasikan sampai Garut sebelum sore hari, kendaraan mudah harga murah.


Jalur pendakian gunung cikuray via kiara janggot

Pendakian Gunung Cikuray Via Kiara Janggot


Kabupaten Garut, adalah sebuah Kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Tarogong Kidul. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Sumedang di utara, Kabupaten Tasikmalaya di timur, Samudera Hindia di selatan, serta Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandung di barat.
Ibukota Kabupaten Garut berada pada ketinggian 717 mdpl dikelilingi oleh Gunung Karacak (1.838 mdpl), Gunung Cikuray (2.821 mdpl), Gunung Papandayan (2.622 mdpl), dan Gunung Guntur (2.249 mdpl).

Dengan pesona alam pegunungan inilah, Garut menjadi salah satu alternatif tujuan pendakian di wilayah Jawa Barat. Setidaknya ada tiga gunung di wilayah Garut yang sangat familiar dan bisa didaki secara estafet yaitu Cikuray, Papandayan dan Guntur. Atas dasar lokasi gunung yang saling berdekatan inilah, maka saya (Alas Perdu), Afan dan Agus memutuskan untuk mendaki  dua gunung sekaligus dalam dua hari di wilayah Garut yaitu gunung Cikuray dan Papandayan. Kami bertiga tergabung dalam satu komunitas Pendaki Laka-Laka yangber-homebase di Kota Tegal

Gunung Cikuray adalah sebuah gunung yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat, Indonesia. Gunung Cikurai mempunyai ketinggian 2.821 meter di atas permukaan laut dan merupakan gunung tertinggi keempat di Jawa Barat setelah Gunung Gede. Gunung ini berada di perbatasan kecamatan Bayongbong, Cikajang, dan Dayeuh Manggung.


Transportasi

- Untuk menuju basecamp kiara janggot dari jakarta bisa naik bus jurusan garut kemudian turun di terminal guntur garut, setelah itu sambung dengan angkot 06 kuning arah cilawu turun di pangkalan ojek genteng, dari situ kemudian lanjut menggunakan ojek untuk sampai di basecamp kiara janggot
- Atau apabila ingin simple bisa kontak langsung basecamp kiara janggot untuk minta jemput sesampainya di terminal guntur






 


Basecamp – Pos 1

Medan yang di awal perjalanan berupa jalan perkampungan berbatu dan tanah merah, Dilanjutkan dengan ladang penduduk berupa tanaman cabai, daun bawang, kol dan juga padi.

Trek Jalur menuju Pos 1 sedikit menanjak. Terik panas sangat terasa karena matahari langsung ke badan kita tanpa terhalang pepohonan besar sama sekali. Sekitar 1,5 jam pendaki akan sampai di pos 1.

Mendekati Pos 2 kita baru melihat rerimbunan pohon besar sebagai tanda bahwa pos 2 sudah dekat. Berdasarkan pengalaman kurang lebih sejauh 2.100m dan membutuhkan waktu 1 jam hingga di Pos 2. Jalur menuju pos 2 merupakan jalur terpanjang selama pendakian via Janggot.


Pos 1 – Pos 2


Area di pos 1 tidak luas, cukup untuk 1-2 tenda saja. Perjalanan menuju pos 2 melewati hutan. Medan menuju pos 2 menanjak dan lumayan menguras tenaga.

Kurang lebih jarak yang ditempuh 660m dan waktu tempuh kita selama 45 menit.


Pos 2 – Pos 3

Pos 2 merupakan area sumber air. Di pos 2 ini kurang lebih cukup untuk 2-3 tenda. Disini air sangat jernih sekali dan rasanya pun sangat alami tidak kalah dengan air kemasan. Medan masih menanjak melewati pepohonan besar serta semak belukar. Jarak dari pos 2 ke pos 3 kurang lebih 335m dan membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai di pos 3.


Pos 3 – Pos 4

Medan dari pos 3 menuju pos 4 menanjak , jalur dilalui rapat dengan pepohonan. Kontur tanah masih berupa tanah yang gembur dan selingi akar akar di sepanjang jalur

Jarak yang ditempu menuju pos 4 kurang lebih 630m dan kami membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk sampai di pos 4.


Pos 4 – Pos 5

Menuju pos 5 medan semakin merapat dan tanjakan semakin terasa berat. Sekedar info karena kiara janggot merupakan jalur baru jadi kontur tanahnya masih gembur dan sangat licin apabila habis di guyur hujan berbeda dengan track jalur pemancar yang kontur tanahnya padat

Jarak tempuh dari pos 4 - pos 5 berkisar 740m sedangkan waktu tempuh kurang lebih 45 menit.


Pos 5 – Pos 6

Menuju pos 6 jalur makin membuat frustasi. Sesekali harus sering berpegangan akar atau dahan yang merambat di permukaan tanah.

Jalur makin rapat dan karena ini jalur baru juga di jalur ini agak jarang sekali  ditemui sampah-sampah pendaki. Walaupun jalur ini tergolong baru tapi jangan khawatir karena di sepanjang jalur terdapat petujuk yg jelas berupa tanda-tanda pita dan plang yang dibuat oleh pengelola jalur kiara janggot.


Kurang lebih perjalanan sejauh 700m selama 60 menit.


Pos 6 – Pos Persimpangan

Dari pos 6 menuju area persimpangan kondisi jalan semakin menanjak dan juga licin. Sangat dianjurkan siapkan fisik prima dengan berlatih atau berolah raga ketika memutuskan mendaki melewati jalur Jenggot.

Waktu tempuh kurang lebih selama 30 menit untuk sampai di persimpangan. Persimpangan ini merupakan pertemuan antara jalur via kiara Janggot dan jalur pendakian via pemancar.


Pos Persimpangan – Pos 7

Setelah melewati persimpangan, pendaki akan menjumpai medan makin terjal.

Sekitar 30 menit perjalanan dari persimpangan untuk sampai di pos 7 jalur pemancar. Di pos 7 ini biasanya ramai pendaki yang mendirikan tenda dan bermalam disana karena wilayahnya yang lapang dan asik untuk tempat mendirikan tenda.


Pos 7 - Puncak

Menuju puncak jalur masih rapat dengan pepohonan, kurang lebih butuh waktu 15 menit menuju puncak

Dari pos 7, puncak masih belum terlihat jelas. Hal ini disebabkan gunung Cikuray merupakan gunung yang rapat dengan pepohonan dari bawah hingga kawasan puncak. Ini berbeda dengan gunung berapi pada umumnya. Umumnya gunung berapi ketika mendekati kawasan puncak atau batas vegetasi hanya tanaman perdu dengan tinggi sedang atau bahkan bebatuan dan pasir yang dijumpai. Berbeda sekali dengan gunung Cikuray, bahkan di Cikuray tidak dijumpai tanaman Edelwise.



Mendekati puncak Cikuray pendaki akan bertemu dengan selter yang cukup luas bisa di gunakan untuk berteduh didalamnya. Kawasan ini cocok sekali bagi yang tidak membawa tenda dan ingin bermalam.

Apabila cuaca cerah pendaki di perbolehkan untuk camp di areal puncak, tapi apabila cuaca sedang buruk dan curah hujan tinggi pendaki disarankan lebih baik baik untuk camp di pos 7

Karena berbahaya selain suhunya yang dingin di puncak terkadang juga terjadi badai apabila cuaca sedang buruk.

Pemandangan di puncak Cikuray sungguh sangat menyejukan mata, di samping krn sunrisenya yang indah puncak cikuray juga memiliki view yg sering di sebut lautan awan, krn awannya yang pekat menyerupai lautan disamudra.

Pemandangan dr puncak cikuray kita bisa melihat kota garut, gunung papandayan, guntur, bahkan ciremai di cirebon apabila cuaca sedang cerah.




Waktu tempuh pendakian :

- Basecamp - Pos 1 = 1,5 jam - 2 jam

- Pos 1 - Pos 2 = 45 menit

- Pos 2 - Pos 3 = 30 menit

- Pos 3 - Pos 4 = 45 menit

- Pos 4 - Pos 5 = 45 menit

- Pos 5 - Pos 6 = 1 jam

- Pos 6 - Persimpangan = 30 menit

- Persimpangan - Pos 7 = 30 menit

- Pos 7 - Puncak = 15 menit


NOTE :

- Waktu tempuh bervariasi tergantung cuaca dan kondisi fisik saat pendakian.

- Pakaian hangat sangat dianjurkan untuk dibawa karena suhu di gunung ini cukup dingin.

- Kondisi fisik sangat harus diperhatikan sebelum pendakian ke gunung cikuray


Saturday, 5 September 2015

Pendakian Gunung Latimojong - Sulawesi











Gunung Latimojong adalah gunung tertinggi di pulau Sulawesi. gunung ini buka merupakan gunung api akan tetapi berupa pegunung yang mempunyai beberapa puncak diatasnya. Gunung Latimojong yang terletak di Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan, mempunyai banyak puncak yaitu puncak Pantealoan (2500 mdpl), puncak Pokapinjang (2970 mdpl), puncak Rante Mario (3478 mdpl), puncak Sinaji (2430 mdpl), puncak Sikolong (2754 mdpl), puncak Rante Kambola (3083 mdpl), puncak Nenemori (3397 mdpl), puncak Bajaja (2700 mdpl), puncak Latimojong (2800 mdpl).


Untuk mencapai puncak Rante Mario bisa di akses melalu jalur Karangan( Dusun Karangan, Desa Rantelemo, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang).




Jalur pendakian




Makassar - Baraka




Basecamp KPA Lembayung di Baraka


Dari makassar biasanya pendaki mencharter mobil angkutan untuk akses ke kecamatan baraka, kabupaten Enrekang. Setibanya di baraka biasanya para pendaki menyempatkan diri berkunjung ke KPA (Kelompok Pecinta Alam) Lembayung untuk sekedar bersilaturahmi, dan disana kita juga bisa mencari informasi tentang pendakian ke Gunung Latimojong. Sebelum melakukan perjalanan ke Desa Karangan pendaki harus izin ke Polsek Baraka, mengisi data diri dan juga membayar adminidstrasi untuk pendakian.




Baraka - Rante Lemo - Desa Karangan


Desa Rante Lemo


Jalan menuju desa Karangan


Basecamp di desa Karangan


Perjalanan selanjut nya untuk mencapai desa Karangan biasanya pendaki mencharter Jeep/Hardtop yang disediakan untuk para pendaki, dan bagi yang tidak kebagian jeep masih ada truk yang siap mengantar pendaki ke desa Karangan. Biasanya jika cuaca kemarau jeep bisa mengantarkan pendaki langsung ke desa Karangan, tapi jika musim hujan jeep/hardtop hanya bisa mengantar sampai ke desa Rante Lemo saja, kemudian pendaki harus berjalan kaki selama 2 jam melewati desa Karuaja dan desa Bulukumba dengan track menanjak dan berlumpur untuk menuju ke desa Karangan.




Desa Karangan - Pos I (Buntu Kaciling)





Perjalanan di lanjutkan, setelah melewati desa Karangan pendaki akan disuguhkan pemandangan yang indah melewati kebuh cengkeh dan kopi milik warga. Setelah melewati perkebunan warga pendaki harus menyebrangi sungi Salu Karangan dengan jembatan terbuata dari batang pohon. Tak lama dari situ pendaki akan bertemu jalanan bercabang dua, yaitu kekiri mendatar adalah jalan menuju puncak Rante Mario dan kekanan menuju puncak Nene Mori yang merupakan puncak tertinggi kedua di Sulawesi. Setelah dari situ sampailah di area terbuka berukuran 4 meter persegi, yaitu Buntu Kaciling dengan ketinggian 1.800 mdpl. Di pos ini tidak terdapat sumber air, biasanya pendaki mengambil air di sungai Salu Karangan saat sebelum menyebranginya.




Pos 1 (Buntu Kaciling) - Pos 2 (Goa Sarung Pakpak)


Perjalanan dari Pos 1 ke Pos 2 cukup menguras tenaga karena jalurnya menyempit , licin, berlumut naik turun menyusuri sisi bukit. Setelah menyeberangi sungai besar pendaki akan sampai di Pos 2 Goa Sarung Pakpak. Pos 2 dikelilingi hutan rotan dengan sumber air berupa sungai yang airnya mengalir deras. Di Pos 2 terdapat pelataran di bawah tebing batu yang cukup untuk 2 tenda.




Pos 2 (Goa Sarung Pakpak) - Pos 3 (Lantang Nase)




Meninggalkan pos 2 pendakian dihadapkan track terjal menuju ke pos 3, tanjakan tanpa ampun dengan kemiringan 75-80 derajat. Untuk mendakinya tak jarang kita memerlukan bantuan tangan, walaupun jaraknya hanya sekitar 0,6 Km, namun memerlukan waktu ± 40 menit dari pos 2. Medan yang dilalui di awal merupakan bebatuan lepas yang bisa menjadi berbahaya bila kita berjalan tidak hati hati, beberapa waktu kita harus menggunakan tangan untuk membantu pergerakan untuk tetap naik, mungkin sudah termasuk dalam klasifikasi Scrambling. Pos 3 merupakan area datar berukuran 5 meter persegi dengan ketinggian 1940 mdpl. Tidak ada sumber air disini.




Pos 3 (Lantang Nase) - Pos 4 (Buntu Lebu)





Jalur menuju pos 4 tidak se-ekstrem sebelumnya, kemiringannya menurun menjadi kisaran 60 - 70 derajat. Terdapat beberapa bonus track mendatar, namun tetap dibutuhkan kewaspadaan tinggi agar tidak terjadi hal - hal yang tidak diinginkan. Pos Buntu Lebu berada pada ketinggian 2.140 Mdpl, merupakan area datar seluas 6 meter persegi yang tertutup rerimbunan pohon dan tidak terdapat sumber air disini.




Pos 4 (Buntu Lebu) - Pos 5 (Soloh Tama)





Perjalanan dari pos 4 akan berlanjut melalui hutan-hutan berlumut, perhatikan kaki anda, banyak terdapat akar-akar tanaman yang menonjol keluar dan kalau tidak hati-hati anda bisa tersandung, perjalanan menuju pos 5 lumayan menanjak namun tidak terlalu terjal, hanya saja agak panjang dan lebat hutannya, setelah kira-kira 1 jam 30 menit pendaki akan tiba di Pos 5.

Pos 5 merupakan tanah datar yang lumayan luas, namun bila sehabis hujan, air biasanya menggenangi daerah tengah-tengah pos 5, terdapat bekas pohon tumbang disini, di pos 5 ini dapat memuat 10 – 12 buah tenda dome, di pos 5 terdapat sumber air, namun anda harus berjalan ±200 meter untuk menuju sumber air tersebut, dan untuk menuju sumber air tersebut anda harus berjalan ke arah pos 6 dan kemudian akan menemukan sebuah pertigaan, ke kanan adalah menuju pos 6 dan ke kiri (turun) menuju ke sumber air, dari pos 5 ini juga anda dapat melihat sebuah air terjun di kejauhan diatas bukit yang terdapat di depan anda, tentunya bila cuaca cerah. Pos ini biasa digunakan pendaki untuk bermalam.




Pos 5 (Soloh Tama) - Pos 6 (Jendela Surga)





Dari pos 5 diperlukan waktu kira-kira 50 menit untuk tiba di pos 6, jalurnya akan benar-benar menanjak dan udara dingin sudah benar-benar menusuk, tidak ada yang spesial di jalur ini hanya sebidang tanah berukuran 3x6 meter persegi, tetapi dari pos 6 ini kita sudah bisa melihat jejeran pegunungan Latimojong yang mengintip malu dengan puncaknya yang bersusun rapi, sangat menyejukkan mata.




Pos 6 - Pos 7 (Kolong Buntu)





Selepas dari pos 6 perjalanan akan benar-benar mengasyikan. Karena perjalanan kita akan melewati jalur sempit, melewati hutan lumut yang sangat jarang di temui di gunung-gunung dipulau jawa.





Setelah berjalan kira-kira 90 menit dari pos 6, maka anda akan tiba di pos 7, sebuah pos yang paling indah di jalur ini, dari sini seakan-akan anda sudah berada di puncak, ketinggiannya adalah 3.100 mdpl, disini terdapat sebuah sungai di lembah sebelah kiri, dan untuk mencapai puncak rante Mario hanya diperlukan waktu kurang dari 30 menit lagi. Pos 7 ini juga merupakan tempat melihat pemandangan jajaran pegunungan latimojong, hutan – hutan lebat dan cakrawala di kejauhan semua terlihat disini, apalagi pada sore hari, awan – awan seputih kapas bergulung dan di sinari mentari sore yang berwarna jingga. Sungguh pemandangan yang super indah.




Pos 7 (Kolong Buntu) - Lapangan/Pertigaan Besar - Puncak Rante Mario





Setelah melewati pos 7 pendaki akan bertemu pertigaan, dimana yang ke kiri itu menuju ke arah Lapangan dan yang kekanan itu menuju punggungan gunung dimana terdapat antena ABRI yang sudah tak terpakai. Sesampainya di Lapangan pendaki akan bertemu tanah lapang dimana terdapat banyak jalur, ke kiri itu menuju puncak Rante Mario, ke kanan 30° menuju Puncak Nene Mori, dan yang ke kanan 90° menuju palopo. Di lapangan ini ketinggiannya 3.300 mdpl.





Setelah melewati pertigaan lapangan pendaki akan menemukan dua jalan bercabang yang nantinya akan bertemu sebelum puncak Rante Mario. Sesampainya di puncak terdapat sebuah tugu setinggi 1,5 m yang menandakan anda telah sampai di puncak Rante Mario 3.478 mdpl puncak tertinggi tanah Celebes. Kemudian pendaki akan disuguhi pemandangan yang sangat indah dari segala arah dimana tujuh puncak Latimojong berbaris tersusun rapi, di sebelah Utara terlihat puncak buntu Rante Kombala, di sebelah barat berdiri tegak puncak Pantealoan dan deretan bukit di Buntu Dea, sedangkan diarah selatan terlihat puncak buntu Nene Mori berselimut awan putih nan cantik.





10406376_10202158022019142_2466931439728929710_n


Sekedar info bahwa suhu di puncak Rante mario sangat dingin, melebihi suhu di gunung Semeru.





10414909_10202158029099319_7491419887082695578_n

www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com